Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Tampilkan postingan dengan label photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label photography. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Apa itu kamera DSLR?

DSLR adalah singkatan dari Digital Single-Lens Reflex. Kamera DSLR artinya kamera digital yang menggunakan refreksi lensa tunggal. Fotografer mengintip objek yang akan difoto melalui lubang intip atau biasa disebut view-finder. Hasil foto yang akan didapat adalah sama dengan apa yang tampak melalui view-finder tersebut.

Gambar: Prinsip kerja DSLR
Cahaya yang masuk, setelah melewati jajaran lensa (1) akan dipantulkan oleh cermin yang dipasang pada posisi kemiringan 45 derajat (2) dan diproyeksikan ke matte focusing screen (5). Melalui condensing lens (6) dan pantulan di dalam pentaprism (7), gambar objek kemudian diteruskan ke lensa mata manusia (8). Ketika kita menekan tombol shutter (bidik) maka cermin (2) akan melipat ke arah panah, focal plane shutter (3) membuka dan kemudian gambar akan ditangkap oleh sensor (4) dan diteruskan ke prosesor gambar kemudian disimpan di media penyimpanan (MMC dan sebagainya).
Sedangkan pada kamera digital biasa, kita bisa melihat objek yang akan dibidik melalui LCD monitor. Apa yang akan didapat belum tentu sama dengan apa yang kita lihat melalui LCD tersebut.

Lensa kamera DSLR

Ketika membeli kamera digital biasa, maka lensa sudah menyatu dengan body kamera. Pada kamera DSLR, lensa bisa dilepas dan diganti. Oleh karenanya, ketika membeli kamera DSLR kita akan ditawari apakah membeli body only (kameranya saja) atau kit (kamera + lensa). Ada kamera DSLR yang bisa dipasang lensa dari merek lain, ada juga yang khusus dari satu merek. Ada kamera DSLR yang dilengkapi dengan motor autofocus. Ada juga yang tanpa motor autofocus sehingga harus membeli lensa bermotor yang biasanya harganya lebih mahal.

Perbandingan Bentuk

Secara fisik, kamera DSLR memiliki bentuk yang hampir sama antara merek satu dan lainnya. Sedangkan kamera digital biasa memiliki bentuk yang lebih bervariasi namun biasanya lebih kecil dan kompak jika dibandingkan dengan kamera DSLR.
Contoh kamera digital biasa. Lensanya pendek dan sudah fix, tidak bisa diganti-ganti.
nikon d80
Contoh kamera DSLR Nikon D80 dengan lensa panjang.
Lensa tersebut bisa diganti-ganti.

Selasa, 22 November 2011

Membuat High Dynamic Range (HDR) Photography

HDR (High Dynamic Range) Photography adalah salah satu teknik yang melibatkan pengetahuan dasar teknik memotret dan juga olah digital lanjutan. Dasarnya adalah membuat satu file foto (formatnya *.hdr) dengan menggabungkan beberapa foto berobjek sama “persis” namun berbeda eksposurenya. Sehingga dihasilkan satu file foto yang rentang nilai dinamis yang tinggi (untuk keperluan olah lanjutan artistiknya lebih luas variasinya)

1.      Siapkan Foto Dasar
Saya gunakan istilah foto dasar ini sebagai foto yang akan diolah untuk HDR. Syarat utama foto yang harus dipenuhi yaitu:
-         minimal ada 3 foto dengan eksposure berbeda
(eksposure adalah ukuran kecerahan suatu foto. Nilai minus berarti foto semakin gelap, nilai plus sebaliknya dan nilai 0 cahaya normal)
-         3 foto yang akan diambil tersebut harus memiliki objek yang sama persis, gunakan tripod, atau letakkan di atas permukaan datar tanpa mengubah posisi saat memotret karena 3 foto itu akan digabungkan nanti menjadi satu foto. Jika dah biasa dengan DSLRnya... bisa juga tanpa tripod.
Semua itu akan mudah dipenuhi dengan kamera Digital Single Reflex Lens (D-SLR) karena pengaturan eksposure dapat dilakukan secara otomatis dengan continuous shot pada mode Bracket (mode yang memotret 3 atau lebih foto secara berurutan dengan eksposure yang berbeda), atau secara manual dengan mengatur eksposure pada kecepatan shutter speed berbeda-beda. Ingat jangan mengubah aperturenya. Dan tripod adalah hal yang sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang baik karena tentu kita tidak ingin objek kita bergeser antara satu foto dengan yang lainnya bukan?

Nah buat yang belum memiliki kamera DSLR... tak masalah. Dalam fotografi dikenal istilah the man (woman) behind the gun. Artinya yang utama adalah orangnya bukan kameranya. Bahkan teman saya berhasil membuat foto HDR Tugu Monas dari kamera HP Sony Ericson K550i (ya gak akh wicak hihihi ane pinjam fotonya nih).

Bagi pemilik kamera pocket, kadang sudah tersedia mode bracket, namun kalau tidak ada, coba dicari setting yang bisa mengubah kecerahan foto. Ingat jangan mengubah posisi foto.

2.      Objek yang tepat buat dipotret untuk HDR
HDR akan dihasilkan dengan baik jika objek fotonya memiliki kontras warna yang kaya, pencahayaan tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap. Biasanya objek HDR adalah bangunan dengan langit yang awannya berarak indah, sunset, sunrise, awan mendung, dan variasi lainnya.
Umumnya juga objeknya adalah still object (objek tak bergerak). Karena kita tak ingin bukan gambar objek kita jadi tak karuan nantinya dengan objek bergerak. Meski ada juga yang mencobanya dan hasilnya pun luar biasa, namun itu dihasilkan juga atas perhitungan fotografi yang tepat dan butuh latihan. Untuk dasar kali ini cukup objeknya yang tetap saja.
Hindari memotret saat matahari bersinar kuat. Usahakan cahaya matahari terhalang awan, gedung atau lainnya sehingga pencahayaannya pas. Dan tentunya perhatikan kondisi objek yang menarik agar hasilnya semakin “maknyuss” nantinya.
Sebagai contoh saya mengambil objek rumah kaca pertanian di dekat lab saya di Utsunomiya University menjelang matahri terbenam. Saya gunakan 5 eksposure berbeda berturut-turut sebagai berikut (-2, -1, 0, +1, +2).
 
3.      Siapkan Software yang sesuai
Format foto yang umumnya dihasilkan dari kamera kita adalah JPEG. Nah untuk membuat foto HDR maka kita memerlukan software khusus. Ada beberapa software yang bisa digunakan. Photoshop CS2 dan CS3 bagi yang dah ahli banget.
Kemudian ada Photomatix dan Dynamic Photo HDR.
Berikut link untuk mendownload dua software terakhir yang saya peroleh dari teman saya.
Photomatix Pro 3

Dynamic Photo HDR

Saya gunakan program Dynamic Photo HDR karena jauh lebih mudah menurut saya. Meski beberapa teman mengatakan berbeda. Dan selanjutnya di tutorial ini saya akan gunakan Dynamic Photo HDR (DP-HDR) sebagai pembahasan pengolahan.

4.      Tahap Pengolahan
Setelah di instal. Buka Dynamic Photo HDR (DP-HDR) Hingga muncul window seperti ini.
 
Klik File > Create New HDRI hingga muncul window kecil bertuliskan Create New HDRI dia atasnya dengan opsi add images. Klik Add Image dan masukkan semua foto yang telah dipersiapkan buat olah HDR. (ingat langkah nomor 1 tentang syarat dasar foto HDR). Saya gunakan foto yang telah saya ambil sebelumnya yaitu foto bracketing saya dengan Nikon D200 seperti terlihat di langkah nomor dua. Maka akan muncul daftar foto yang telah kita siapkan tadi berikut nilai eksposurenya. Idealnya perbedaan eksposurenya teratur. Namun jika tak teratur pun gak masalah.
 
Jangan lupa menconteng Allign Files in Next Step di bagian kiri bawah box.
Setelah itu klik Ok.
Maka akan mucul proses Allignment (pengaturan foto agar beraturan satu sama lainnya). Setelah itu akan muncul windows baru bertuliskan Allign Files yang menganjurkan kita untuk mengecek hasil Allignment terakhir sebelum file HDR diciptakan. File foto yang belum pas allignmentnya akan terlihat seperti ini.
 
Cek satu-satu file di list bagian kanan. Jika ada yang belum benar proses penyatuannya maka geser-geser foto dengan menggunakan tombol arah pada keyboard hingga pas. Kemudian tekan Ok.
Akan muncul proses kalkulasi yang membutuhkan waktu beberapa saat tergantung komputernya. Hingga jadilah foto file HDR.

Tapi jangan kaget kalo hasilnya gak seperti yang diharapkan. Karena yang dihasilkan ini barulah file HDR dasarnya. Seperti berikut. Selanjutnya perlu dilakukan tone maping.
Klik Image > Tone Map HDR Image hingga muncul window box ini.
 

Selanjutnya adalah masalah kreativitas kita masing2 untuk menguji coba berbagai fitur di window box tone mapping ini. Saya selalu gunakan setting:
Eye Catching kemudian mengatur slide bar dibawahnya untuk mengatur hasil pewarnaan agar lebih dramatis.

Silakan mencoba untuk mengklik
Filter: Color di kanan atas window box untuk mencoba filter (meski saya lebih sering tak menggunakan ini)
Match Color, Kelvin, dan Light Tuner di bawah kanan foto yang kita olah untuk mencocokkan kondisi foto yang kita inginkan. Jangan lupa menconteng simbol NR (Noise Reduction di samping kanan bawah) untuk menghaluskan. Atur intensitasnya.
Jika sudah selesai, maka anda bisa mengecilkan ukuran foto dengan resize image.
Dan akhinya menyimpannya dengan menekan Process. Simpan dengan format JPEG atau apa aja yang anda inginkan. Gunakan TIFF untuk olah lanjutan di software lanjutan..
Dan hasil HDR saya adalah sebagai berikut ini...
Setelah itu... anda bisa menekan tombol Close untuk menutup tone maping dan kembali ke halaman HDR. Anda bisa menyimpan file HDR anda untuk mengolah lagi dilain waktu tanpa harus menggabungkan foto anda lagi.

Akhir kata... selamat anda telah sukses menyelesaikan tutorial ini. Semoga hasilnya bagus.
Perlu diingat... bahwa perlu latihan dan tentunya kesabaran untuk menghasilkan foto HDR yang bagus, baik secara teknik memotret maupun teknik olahannya. Semakin banyak dan sering... akan semakin baik hasilnya. Dan bahkan bisa dikreasikan lebih lanjut.
Selamat mencoba dan kalo ada ide baru... mohon berkenan juga untuk share.

HDR hanyalah bagian kecil dari fotografi... yang utama adalah pesan dalam foto yang dihasilkan pada setiap jepretan.

-pembuat_jejak-

NB: Buat Mbak Wulan, Akh Wicakz, Akh “Orang Biasa”, Mas Alfonso dan lain-lainnya terima kasih sudah menunggu. Mohon maaf jika banyak yang kurang berkenan maklum ngerjainnya cuma 1-2 jam-an saja, masih pemula banget om, mas, dan mbak. Mohon masukannya. Bagi semuanya yang baru kenal... salam kenal... dan yang suka fotografi... kalo ada acara hunting bareng saya ikutan dong! Bagi-bagi ilmunya ya!

Sumber Pendukung:
Manual Dynamic Photo HDR,
dll

Rabu, 26 Oktober 2011

Belajar Memahami ISO atau ASA Pada Kamera

Dalam fotografi, kita mengenal istilah ISO. ISO, atau juga ASA adalah kepekaan film atau sensor pada kamera digital terhadap cahaya. Semakin besar nilai ISO, maka semakin besar pula kemampuan sensor kamera tersebut menyerap cahaya yang masuk.
Nilai ISO pada setiap kamera tentu saja berbeda. Ada kamera yang memiliki sensitifitas terendah ISO 80 hingga ISO tinggi sebesar 3200 (ISO 3200). Bahkan saat ini ISO yang dimiliki kamera SLR digital ada yang mencapai ISO 12800.
contoh menu ISO pada kamera digital
Lalu pada kondisi bagaimana yang mempengaruhi kebutuhan ISO kita?
Jika kita berada di keadaan yang memiliki kondisi pencahayaan yang bagus, seperti di pantai, maka kita dapat mengatur settingan ISO kamera kita pada ISO rendah. Misal cukup pada ISO 100 atau 200. Namun jika cuaca kurang bersahabat, atau anda berada pada lokasi yang redup, misalnya indoor atau suasana konser, maka anda membutuhkan ISO tinggi.
contoh penggunaan ISO yang berbeda
Meski banyak pabrikan kamera sudah mengklaim bahwa kamera mereka mampu bekerja dengan baik pada ISO tinggi, penggunaan ISO yang terlalu tinggi juga tidaklah dianjurkan. Penggunaan ISO yang terlalu tinggi dapat menimbulkan noise pada foto. Bahkan jika terlalu parah, noise ini akan mengakibatkan foto cenderung terlihat pecah saat dicetak.
perbandingan noise pada penggunaan ISO
Saya pernah menganalogikan, bahwa ISO seperti semut yang menyusun cahaya pada sensor kamera. Semakin kecil ISO, maka semakin sedikit semut yang bekerja, dan semakin bersih pula hasil foto. Semakin besar ISO, semakin banyak semut yang bekerja pada sensor kamera. Dan akhirnya, semakin banyak pula semut (noise) yang tertinggal pada foto yang dihasilkan.

Popular Posts

 
Design by ArulPhotoWork Themes